Selasa, 13 November 2012

UPGRADING PENGASUH


UPGRADING PENGASUH PESANTREN

“Upgrading diadakan untuk peningkatan mutu pelayanan”, Mudir Transisional Pesantren Persatuan Islam Bangil.

Inspirasi: Para pengasuh siap meningkatkan kualitas pembimbingan dan pendidikan dengan senantias belajar dan belajar
Para pengasuh di Pesantren Persis Bangil Senin (12/11/2012) dikumpulkan di perpustakaan pesantren putri untuk mengikuti upgrading. Program upgrading ini mendesak untuk dilakukan karena pesantren dituntut membuat gebrakan yang langsung dirasakan santri. “Acara ini dilakukan agar pelayanan kepada santri semakin lebih baik”, papar Ustadz Supriyadi, M. Pd. I. Dalam sambutan pembukaan acara pria asli Blitar ini menyatakan bahwa persoalan kedekatan dengan santri amat penting. Karena dengan kedekatan itu terjalin komunikasi yang baik. Mereka nyaman dengan perhatian yang dihadirkan segenap pengasuh.
Keteduhan: Tulus itu profesional
Mudir pesantren Ustadz Luthfie Abdullah Ismail, Lc, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada segenap pengasuh yang senantiasa menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya. Terhadap acara upgrading alumnus Institut Da’wah Tripoli, Libya mengharapkan para pengasuh mampu mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.
Upgrading semacam ini merupakan salah satu kegiatan yang sudah direncanakan Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia yang disingkat PSDM. Sebelumnya, pada bulan Oktober 2012 juga dilakukan pelatihan aplikasi power point untuk semua guru. Tentunya dimaksudkan agar media pembelajaran semakin variatif. Guru bisa melakukan inovasi dan kreasi dalam penyajian materi agar semakin interaktif dan menyenangkan.
Komunikatif: Miftahul Jinan
Hadir sebagai nara sumber upgrading ini adalah Ustadz Miftahul Jinan, seorang praktisi parenting. Pria asli Ponorogo ini menyajikan nilai keunggulan seorang guru pesantren. Dia mengkisahkan sikap ketulusan guru saat ini boleh jadi akan menjadi cikal bakal kesuksesan 30 tahun mendatang bagi para santrinya. “Ini yang disebut butterfly effect”, ungkapnya.
Seorang ayah yang lama berpisah dengan putrinya karena dinas luar negeri terheran-heran dengan perilaku anak gadisnya. Sebutlah Mutia, ia selalu berwudhu sebelum tidur. Ayahnya kemudian bertanya, sejak kapan ia melakukannya? “Mutia melakukan ini sejak kelas V”, jawabnya. Padahal saat ini ia sudah duduk di bangku kelas XI. Menurutnya, ia belajar dari guru agama, namanya Pak Bambang. Ia menjelaskan bahwa manfaat berwudhu sebelum tidur maka sepanjang tidurnya ia tidak akan diganggu setan. Sejak itulah ia terus istiqamah melaksanakannya.
Inilah efek kepakan sayap kupu-kupu. Pak Bambang, mungkin hanya sekali menjelaskannya. Dan itu sangat singkat. Namun ketulusannya benar-benar mengantarkan salah seorang muridnya istiqamah menjalankan pengajarannya. Tidakkah ini sebuah pengaruh yang luar biasa. Tidakkah ini menjadi amal jariyah Pak Bambang. Inilah sentilan bagi guru pesantren. “Jaga ketulusan dalam membina dan mengasuh santri”, pesan Ustadz Jinan sapaan karibnya.
Dalam paparannya mengenai kepengasuhan santri beliau sangat menekankan pentingnya kehadiran pengasuh di tengah-tengah mereka. Komunikasi mata, verbal, maupun sentuhan di pundak membantu membangun kedekatan dengan para santri. Dan pada saatnya sosok pengasuh mampu mempengaruhi lingkungan santri lebih teratur, tertib, rapi, dan terawat. “Karena itu dibutuhkan komitmen yang tinggi untuk perubahan pesantren yang lebih baik”, jelasnya.
Inspirasi: Responsibilitas tinggi
Ustadz Jinan yang aktif di Griya Parenting menambahkan sejumlah poin agar segenap pengasuh benar-benar profesional. Sebagai bentuk komitmen menjadi tenaga pengasuh yang berkualitas harus menjaga kedisiplinannya. Disiplin menjadi watak perilaku sehari-hari. Karena ia akan dicontoh.
Tentang kedisiplinan ada kepala sekolah yang sengaja terlambat. Padahal aturan disekolah itu jika ada yang terlambat wajib dihukum berlari dari gerbang sampai tempat parkir yang berjarak 150 meter. Aturan itu diberlakukan untuk semua siswa, pendidik, dan juga tenaga kependidikan. Dan saat kepala sekolah itu benar-benar menjalani hukuman lari, semua hening memperhatikannya. Di titik inilah sikapnya mewakili kata-kata “Aturan harus ditegakkan untuk semua, tidak pandang jabatan”. (Humas Pesantren Persis Bangil)
  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.