Kamis, 29 November 2012

LOMBA MATA PELAJARAN

PENGALAMAN BERHARGA


Delegasi santri putri
Kemarin, (Rabu, 28/11) Pesantren Persis Bangil mengutus 12 santrinya mengikuti Lomba Bidang Studi tingkat Kabupaten Pasuruan di Lekok, Pasuruan. Acara rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Bidang Pergurag Kemendikbud kabupaten ini diikuti ratusan peserta. Pesantren melalui Kepala Madrasah Tsanawiyah Persis 1 maupun Persis 2 mendelegasikan 6 santri putra dan 6 santri putri yang dinilai cakap dan berkualitas. 

Bertempat di Yayasan Taman Pendidikan NU, Lekok, Pasuruan, santri Persis beradu kompetensi kognitif dengan pelajar-pelajar tingkat tsanawiyah se-kabupaten Pasuruan. Kesiapan santri menghadapi lomba Bidang Studi ini dilakukan beberapa hari sebelumnya. Hal ini dilakukan agar rasa percaya diri santri berkembang dan berpengaruh positif pada saat lomba. 
Delegasi santri putra

Hasil lomba yang diikuti memang belum sesuai harapan. Prestasi di ajang tingkat kabupaten Pasuruan ini belum dapat diraih. "Hasil ini sudah seharusnya bagi pesantren sebagai bahan evaluasi bersama secara menyeluruh", tutur salah satu pengurus pesantren mengomentari hasil lomba kemarin. (Humas) 

Rabu, 28 November 2012


LOMBA DEBAT FIQH

Ilmu itu penting, mental juga penting 
Salah satu ajang melatih keberanian dan percaya diri adalah dengan tampil di forum umum. Hal ini pula yang dilakukan Izzuddin Al Qassam Bahalwan, Fajar Islami Humam, dan Muhammad Ali Muhtadin dengan tampil di Lomba Debat Fiqih. Tiga santri yang mewakili Pesantren Persis Putra diikutkan dalam lomba yang diselenggarakan Selasa (27/11) oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Maliki, Malang.
Tim santri Persis mendapat tema tentang “Bolehkah Non Muslim Menjadi Presiden di Indonesia?”. Ketentuan siapa yang menjadi Tim Kontra maupun Pro ditentukan saat akan tampil di panggung debat. Dan melalui mekanisme pengundian posisi, santri Persis berada di tempat kontra. Tim Pro diduduki santri dari Pesantren Darul Lughah Wad Da’wah, Raci, Bangil, Pasuruan.
Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Pekan Fakultas Syari’ah UIN Maliki, Malang. Panitia menuturkan bahwa acara ini sedianya diikuti 24 tim. Namun yang bersedia hanya 10 tim. “Dari 24 tim yang siap ada 10, tapi yang datang cuma 9 utusan”, kata Halim salah satu panitia.
Dukungan alumni
Sejumlah persiapan materi sudah dipelajari. Secara langsung diskusi dan tampil di podium masjid pesantren beberapa kali pun sudah dilakukan.  Namun keadaan bisa berbeda saat di forum umum dan terbuka. Saat itulah kemampuan santri dapat terlihat cukup jelas. Apakah mental keberanian itu dapat terjaga atau sebaliknya, keadaan menjadi grogi yang ujungnya kurang konsentrasi dan cenderung tidak tenang.

Kalian bisa!
Sejumlah alumni yang masih kuliah di Malang turut hadir menyemangati adik-adiknya.  “Ini sebagai pelajaran buat kita”, kata Kak Januar, konselor yang ikut mendampingi santri. Nampaknya hal itulah yang dirasakan santri. “Kami grogi”, tutur Izzuddin. Dua temannya juga mengiyakan pernyataannya itu. Ustadz Bambang Priyono, Kepala MA Persis 1 mendorong terus keikutsertaan dalam momen-momen lainnya. “Meski belum lolos ke semifinal, keikutsertaan santri kita terus didukung sebagai pengalaman dan pelajaran berharga bagi mereka”, pungkasnya. (Humas) 
Usai acara, silaturahim ke Masjid AR. Fachruddin, UMM - Malang

Selasa, 13 November 2012

UPGRADING PENGASUH


UPGRADING PENGASUH PESANTREN

“Upgrading diadakan untuk peningkatan mutu pelayanan”, Mudir Transisional Pesantren Persatuan Islam Bangil.

Inspirasi: Para pengasuh siap meningkatkan kualitas pembimbingan dan pendidikan dengan senantias belajar dan belajar
Para pengasuh di Pesantren Persis Bangil Senin (12/11/2012) dikumpulkan di perpustakaan pesantren putri untuk mengikuti upgrading. Program upgrading ini mendesak untuk dilakukan karena pesantren dituntut membuat gebrakan yang langsung dirasakan santri. “Acara ini dilakukan agar pelayanan kepada santri semakin lebih baik”, papar Ustadz Supriyadi, M. Pd. I. Dalam sambutan pembukaan acara pria asli Blitar ini menyatakan bahwa persoalan kedekatan dengan santri amat penting. Karena dengan kedekatan itu terjalin komunikasi yang baik. Mereka nyaman dengan perhatian yang dihadirkan segenap pengasuh.
Keteduhan: Tulus itu profesional
Mudir pesantren Ustadz Luthfie Abdullah Ismail, Lc, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada segenap pengasuh yang senantiasa menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya. Terhadap acara upgrading alumnus Institut Da’wah Tripoli, Libya mengharapkan para pengasuh mampu mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.
Upgrading semacam ini merupakan salah satu kegiatan yang sudah direncanakan Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia yang disingkat PSDM. Sebelumnya, pada bulan Oktober 2012 juga dilakukan pelatihan aplikasi power point untuk semua guru. Tentunya dimaksudkan agar media pembelajaran semakin variatif. Guru bisa melakukan inovasi dan kreasi dalam penyajian materi agar semakin interaktif dan menyenangkan.
Komunikatif: Miftahul Jinan
Hadir sebagai nara sumber upgrading ini adalah Ustadz Miftahul Jinan, seorang praktisi parenting. Pria asli Ponorogo ini menyajikan nilai keunggulan seorang guru pesantren. Dia mengkisahkan sikap ketulusan guru saat ini boleh jadi akan menjadi cikal bakal kesuksesan 30 tahun mendatang bagi para santrinya. “Ini yang disebut butterfly effect”, ungkapnya.
Seorang ayah yang lama berpisah dengan putrinya karena dinas luar negeri terheran-heran dengan perilaku anak gadisnya. Sebutlah Mutia, ia selalu berwudhu sebelum tidur. Ayahnya kemudian bertanya, sejak kapan ia melakukannya? “Mutia melakukan ini sejak kelas V”, jawabnya. Padahal saat ini ia sudah duduk di bangku kelas XI. Menurutnya, ia belajar dari guru agama, namanya Pak Bambang. Ia menjelaskan bahwa manfaat berwudhu sebelum tidur maka sepanjang tidurnya ia tidak akan diganggu setan. Sejak itulah ia terus istiqamah melaksanakannya.
Inilah efek kepakan sayap kupu-kupu. Pak Bambang, mungkin hanya sekali menjelaskannya. Dan itu sangat singkat. Namun ketulusannya benar-benar mengantarkan salah seorang muridnya istiqamah menjalankan pengajarannya. Tidakkah ini sebuah pengaruh yang luar biasa. Tidakkah ini menjadi amal jariyah Pak Bambang. Inilah sentilan bagi guru pesantren. “Jaga ketulusan dalam membina dan mengasuh santri”, pesan Ustadz Jinan sapaan karibnya.
Dalam paparannya mengenai kepengasuhan santri beliau sangat menekankan pentingnya kehadiran pengasuh di tengah-tengah mereka. Komunikasi mata, verbal, maupun sentuhan di pundak membantu membangun kedekatan dengan para santri. Dan pada saatnya sosok pengasuh mampu mempengaruhi lingkungan santri lebih teratur, tertib, rapi, dan terawat. “Karena itu dibutuhkan komitmen yang tinggi untuk perubahan pesantren yang lebih baik”, jelasnya.
Inspirasi: Responsibilitas tinggi
Ustadz Jinan yang aktif di Griya Parenting menambahkan sejumlah poin agar segenap pengasuh benar-benar profesional. Sebagai bentuk komitmen menjadi tenaga pengasuh yang berkualitas harus menjaga kedisiplinannya. Disiplin menjadi watak perilaku sehari-hari. Karena ia akan dicontoh.
Tentang kedisiplinan ada kepala sekolah yang sengaja terlambat. Padahal aturan disekolah itu jika ada yang terlambat wajib dihukum berlari dari gerbang sampai tempat parkir yang berjarak 150 meter. Aturan itu diberlakukan untuk semua siswa, pendidik, dan juga tenaga kependidikan. Dan saat kepala sekolah itu benar-benar menjalani hukuman lari, semua hening memperhatikannya. Di titik inilah sikapnya mewakili kata-kata “Aturan harus ditegakkan untuk semua, tidak pandang jabatan”. (Humas Pesantren Persis Bangil)
  



Minggu, 11 November 2012

UPGRADING PENGASUH


UPGRADING PENGASUH PESANTREN PERSIS BANGIL 

Agenda revitalisasi sistem pendidikan di Pesantren Persis Bangil terus berjalan. Meski belum begitu signifikan pergerakannya, sejumlah agenda untuk membangkitkan semangat terus dilakukan. Setelah beberapa waktu lalu segenap tenaga pengajar dibekali materi aplikasi power point dalam metode pembelajaran, kali ini giliran penguatan figur pengasuh yang menjadi tema sentralnya.

Dalam acara yang akan dilaksanakan besok pagi mulai pukul 10.00 s.d. 15.00 WIB menghadirkan pembicara Ustadz Miftahul Jinan, M. Pd. Tokoh pendidikan Jawa Timur ini akan memberikan sejumlah motivasi dan penguatan karakter figur pengasuh yang dibutuhkan di era sekarang ini. Karena itu segenap pemimpin pesantren, pengasuh asrama, serta sejumlah elemen penting akan mengikuti acara ini. Dalam daftar undangan acara, insya Allah mencakup Mudir dan para wakilnya yang berjumlah 4 wakil, Koordinator PSDM, Kepala Madrasah, Ketua Majlis Guru, Para pengasuh asrama, para wali kelas, guru bersertifikat profesional, pengasuh tahfidz dan tahsin, Pembina Kajian Karya dan Pemikiran A. Hassan, Pembina Khithabah, dan Humas.

Semoga kegiatan ini mendapat ridha-Nya. Amien. (Dipublikasikan oleh Bid. Humas Pesantren Persis Bangil)


Kamis, 08 November 2012

Rabu, 07 November 2012

PEMBINA YAYASAN MENINJAU FASILITAS

Akrab: Temu Tokoh
PEMBINA YAYASAN MENINJAU FASILITAS PESANTREN

Langkah Pembina Yayasan Pesantren Persatuan Islam turun ke lapangan diawali dari melihat persiapan dan kesiapan lokasi rapat kerja di Aula A. Hassan. Prof. Dr. Zuhal AQ., M. Sc., E. E., selaku Pembina Yayasan observasi ini diharapkan bisa mempengaruhi kebijakan global tentang pengembangan pesantren ke depan. Pembenahan utuh dan menyeluruh nantinya dapat terlihat dari sikap di agenda Rapat Kerja.

Prof. Zuhal sempat meninjau lokasi Madrasah Ibtidaiyyah Persis Bangil yang berimpitan dengan Perpustakaan Induk. Beliau juga melihat secara langsung lokal ruang kelas MI. Tidak luput dari pengamatan beliau adalah keberadaan Ma'had 'Aly yang berada satu atap dengan Perpustakaan Induk. Titik harapannya ada di tetap eksisnya ma'had. Jangan sampai yang sudah ada lalu hilang tanpa alasan yang jelas.

Saat peninjauan ke MI Persis Bangil, Jum'at, (7/9/2012) Mudir Pesantren, Ustadz Luthfie Abdullah Ismail, Ketua ikatan alumni pesantren, Bahauddin turut mendampinginya. Selain itu ada juga Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, MA salah satu penggagas revitalisasi yang aktif sebagai Pembantu Rektor IV UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Turut mendampingi acara peninjauan ini salah seorang staf guru pesantren yang juga putra Ustadz Ghazie AQ, yaitu Ustadz Hefzi, Lc. Beliau dipercaya untuk mengelola perpustakaan induk yang menyimpan ratusan koleksi buku-buku bersejarah peninggalan Ustadz A. Hassan, Ustadz Abdul Qadir Hassan, dan kitab-kitab waqaf lainnya.

Sabtu, 03 November 2012

SEMINAR PENDIDIKAN ISLAM

Prof. Dr. Zuhal AQ., M. Sc. E. E., memaparkan konsep revitalisasi.

SEMINAR PENDIDIKAN ISLAM


Sebuah seminar bertajuk GURUKU TELADANKU telah diadakan beberapa waktu yang lalu di Pesantren Persis Bangil. Dalam rangkaian Rapat Kerja Pesantren Persatuan Islam Bangil setidaknya ada 3 agenda utama. Pertama, seminar Guruku Teladanku, dilanjutkan dengan Rapat Kerja Pesantren Persis Bangil sebagai puncak acara. Dan ditutup dengan diskusi panel tentang Implementasi Pendidikan Islam di Pesantren Persatuan Islam Bangil.

Seminar Guruku Teladanku yang diadakan di Aula A. Hassan dihadiri seluruh guru pesantren. Narasumber seminar ini menampilkan Ustadz Aliga Ramli, Lc yang menyampaikan empat poin penting, landasan menuntut ilmu, urgensi lembaga pendidikan, dan guru sebagai qudwah hasanah.
Acara yang digelar pada pekan pertama September itu menandai dibukanya Rapat Kerja Pesantren Persatuan Islam Bangil. Menurut penuturan sejumlah guru bahwa kegiatan semacam ini baru pernah dilaksanakan. "Ini baru pernah ada", tutur Ustadz Masykur Ahmad yang sudah puluhan tahun mengabdi di Bangil.

Ustadz Umar Fanani, BA yang juga menjadi nara sumber dalam seminar itu menyampaikan persoalan keimanan yang harus menjadi landasan pendidikan Islam. Di kesempatan itu beliau menguraikan hakikat pendidikan Islam yang mengarah pada membangun Generasi Rabbani. Untuk mencapai ideal generasi seperti itu dibutuhkan pembinaan iman sebagai basis pendidikan seutuhnya.

Khusyu': Sebagian peserta seminar
Narasumber ketiga yaitu Ustadz Ammar Utsman, Lc. Pria kelahiran Lamongan yang kini tinggal di Surabaya menyampaikan tema ibadah yang erat kaitannya dengan membangun keteladanan. Ibadah yang dilakukan dengan segenap ketulusan serta sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan pengaruh nyata bagi pelakunya. Memiliki jiwa sosial yang tinggi, tawadhu', tulus, dan senantiasa bersemangat menjaga nilai-nilai kebaikan dalam Islam. Karena itu, dalam proses pendidikan di suatu lembaga tidak saja dibutuhkan guru-guru yang cakap dalam ilmu pengetahuan. Juga sangat diperlukan kualitas ibadahnya yang tinggi. Sehingga diharapkan mampu memberikan atsar bagi murid-muridnya di kelas.

.